Made Kinten Balinese Dance Magic

January 29, 2016  •  Leave a Comment

This is my English translation of an interview that I did with Made Kinten.  The original Indonesian is below. 

Ini adalah terjemahan bahasa Inggris saya wawancara yang saya lakukan dengan Ni Made Kinten. Bahasa Indonesia original di bawah.

I met Made Kinten five years ago.  My friend Annika was looking for a traditional dance instructor in Karengasem, Bali, and Emerald Star introduced us to Made Kinten. She and Annika become good friends through dance.  Annika once told me that Made Kinten was her “other” mother.

Four years later I was honored to photograph a dance performance that Made Kinten created for the anniversary of the beginning of the restoration of the Tirta Gangga water palace.

More recently I photographed a dance performance in Amlapura where almost 100 girls dressed in traditional dress and makeup also hula hooped.  In my opinion, and the opinion of many others, Made Kintin is the finest dance teacher and choreographer of traditional Balinese dance in Bali.  Her dance studio is in Amlapura. How long have you been a Balinese dance teacher and choreographer, and what is your philosophy around teaching dance?  Do you have a website?

“I began teaching after I graduated from the Conservatory of Music and Dance (SMKI) in 1986.  My career as a choreographer started in 1997. My philosophy has been that "art is not just to enjoy visually, it is also for the soul.” I do not currently have a website.” How does learning traditional Balinese dance improve a child’s life?

“By learning Balinese dance, children have an advantage, call it a surplus, that can be used to find the material (money) and the ngayah, a path of devotion to our supreme god Sang Hyang Widhi. In addition to fulfilling this path of devotion, children also feel happy entertaining a lot of people.” What are some of your highlights as a dance teacher and choreographer? What are you most proud of?

“I feel very proud that my students are able to learn Balinese traditional dance and that they show a high quality of Balinese dance movement. These children are also taking part in the preservation of our culture through traditional Balinese dance.” I recently photographed a Balinese dance performance that you created where there were about 100 young girls hula hooping.  What inspired you to mix hula hooping and traditional Balinese dance?

“I created a choreography called the Chilli Ulangun dance.  It is based on the criteria in the field of art in each area of the province.  Each district of the Karangasem has inspired me to create new art.  One of my students brought a toy hula-hoop to class one day. That's when I come up with an idea that is alignment with the character and soul of children. To me, hula-hoops are very suitable for children's play. Starting with that premise, I began trying to integrate the movements of Balinese dance with the basic movements of the hula-hoops, and from this a new creation was born the "Chilli Ulangun". “Chilli" means the “beautiful face” while "Ulangun" means enchanting / fascinating. So Chilli Ulangun means the beautiful face of the children who are hula hooping and this amazes the audience.” What are some of your future dance performance ideas and inspirations?

“My inspiration for a show in the future may come out of a new property (studio) where costumes for Balinese dancers will provide new innovations. It will be here where activities, combined with the traditions of dance, are used as a kind of dolanan, a children’s game.” Saya bertemu dengan Ni Made Kintin lima tahun yang lalu.  Ketika teman saya Annika sedang mencari instruktur tari tradisional Bali di Karangasem, Bali. Kemudian Emerald Star memperkenalkan Ni Made Kintin kepada kami. Dan kemudian Annika menjadi teman baik Ni Made Kintin melalui tarian. Annika pernah mengatakan kepada saya bahwa Ni Made Kintin seperti seorang ibu baginya.  Empat tahun kemudian saya mendapat kehormatan untuk memotret pertunjukan tari yang Ni Made Kintin ciptakan untuk ulang tahun taman air Tirta Gangga di Karengasem, Bali.

Baru-baru ini saya memfoto pertunjukan tarianya di Amlapura yang mana hampir 100 anak perempuan mengenakan pakaian tradisional dan riasan wajah dan menari dengan hula. Menurut pendapat saya, dan juga pendapat banyak orang lain, Ni Made Kintin adalah guru tari dan koreografer tarian tradisional Bali terbaik di Bali.  Dia memiliki sanggar tari di Amlapura. Berapa lama sudah Ibu menjadi guru tari Bali dan koréografer?  Apa filosofi Ibu mengajar tari?  Ibu punya website?

“Sejak tamat sekolah SMKI yaitu dari tahun 1986-sekarang. Untuk memulai karir koreografer saya rintis dr tahun 1997-sekarang. Filosofi saya selama ini " seni bukan hanya untuk dinikmati mata melainkan juga untuk jiwa". Untuk sekarang saya belum mempunyai website sendiri.

Bagaimana belajar menari tarian tradisional Bali bisa meningkatkan kehidupan seorang anak?

Dari belajar tari bali, anak anak mempunyai kelebihan pada dirinya dan tentu kelebihan tersebut bisa digunakan untuk mencari material (uang) dan ngayah ( suguhan untuk Sang Hyang Widhi). Disamping dapat memenuhi hal tersebut, dari belajar menari anak anak akan merasa bahagia karena telah menghibur banyak orang.”

Apa yang paling Ibu banggakan menjadi seorang guru tari dan koreografer?

Saya merasa sangat bangga jika anak didik saya bisa mengembangkan tari tradisi bali dan betul betul mempunyai gerak gerak tari bali yang berkualitas, sehingga yang nantinya secara tidak langsung anak anak akan ikut dalam melestarikan budaya bali khususnya tari bali. Saya baru-baru ini memfoto pertunjukan tari Bali yang Ibu buat di mana ada sekitar 100 anak perempuan menari dengan hula hoop. Apa yang menginspirasi Ibu untuk memadukan hula hoop dengan tari tradisional Bali?

“Inspirasi saya membuat tari kreasi cili ulangun adalah berawal dari adanya kriteria dari provinsi di bidang seni ke daerah masing masing sehingga kabupaten karangasem menunjuk saya untuk membuat karya seni baru. Suatu ketika anak didik saya yang sedang latihan membawa mainan hulahop. Disanalah saya mempunyai ide yang cocok untuk karakter dan jiwa anak anak. Bagi saya hulahop sangat cocok untuk permainan anak anak. Dimulai dari itu, saya mencoba untuk memadukan gerak gerak tari bali dengan gerak dasar hulahop sehingga lahirlah garapan tari kreasi baru bernama "cili ulangun". Yang jika dipilah, "cili" artinya muka/paras cantik sedangkan "ulangun" berarti memukau/terpesona. Jadi cili ulangun artinya paras cantik dari anak anak yang sedang bermain hulahop sehingga memukau para penikmatnya.”

Apa inspirasi Ibu dan Ide pertunjukan yang mungkin Ibu ingin ciptakan di masa depan?

“Inspirasi saya untuk pertunjukkan di masa depan mungkin janur, karena janur bisa menjadi property yang bisa dipakai untuk kostum untuk penari bali yang nantinya akan memberikan inovasi baru. Begitu juga permainan tradisi dipadukan dengan gerak tari yang akan digunakan dolanan.”

 


Comments


Archive
January February March April May June July August September October November December (1)
January (1) February (1) March (2) April (2) May June (2) July August September October November December
January February March (1) April May (1) June July August September October November December
January (1) February March April May June July (1) August September October (1) November December
January (1) February (1) March (1) April (1) May June July August September October November December